Taaruf adalah kegiatan
bersilaturahmi, kalau pada masa ini kita bilang berkenalan bertatap muka, atau
main/bertamu ke rumah seseorang dengan tujuan berkenalan dengan penghuninya.
Bisa juga dikatakan bahwa tujuan dari berkenalan tersebut adalah untuk mencari
jodoh. Taaruf bisa juga dilakukan jika kedua belah pihak keluarga setuju dan
tinggal menunggu keputusan anak untuk bersedia atau tidak untuk dilanjutkan ke
jenjang khitbah - taaruf dengan mempertemukan yang hendak dijodohkan dengan
maksud agar saling mengenal.
Sebagai sarana yang objektif
dalam melakukan pengenalan dan pendekatan, taaruf sangat berbeda dengan
pacaran. Taaruf secara syar`i memang diperintahkan oleh Rasulullah SAW bagi
pasangan yang ingin nikah. Perbedaan hakiki antara pacaran dengan ta’aruf
adalah dari segi tujuan dan manfaat. Jika tujuan pacaran lebih kepada
kenikmatan sesaat, zina, dan maksiat. Taaruf jelas sekali tujuannya yaitu untuk
mengetahui kriteria calon pasangan.
Perbedaan
taaruf dengan pacaran
Dalam pacaran, mengenal dan mengetahui hal-hal
tertentu calon pasangan dilakukan dengan cara yang sama sekali tidak memenuhi
kriteria sebuah pengenalan. Ibarat seorang yang ingin membeli mobil second,
tapi tidak melakukan pemeriksaan, dia cuma memegang atau mengelus mobil itu
tanpa pernah tahu kondisi mesinnya. Bahkan dia tidak menyalakan mesin atau
membuka kap mesinnya. Bagaimana mungkin dia bisa tahu kelemahan dan kelebihan
mobil itu.
Sedangkan taaruf adalah seperti
seorang montir mobil yang ahli memeriksa mesin, sistem kemudi, sistem rem,
sistem lampu dan elektrik, roda dan sebagainya. Bila ternyata cocok, maka
barulah dia melakukan tawar-menawar. Ketika melakukan taaruf, seseorang baik
pihak pria atau wanita berhak untuk bertanya yang mendetil, seperti tentang
penyakit, kebiasaan buruk dan baik, sifat dan lainnya. Kedua belah pihak harus
jujur dalam menyampaikannya. Karena bila tidak jujur, bisa berakibat fatal
nantinya. Namun secara teknis, untuk melakukan pengecekan, calon pembeli tidak
pernah boleh untuk membawa pergi mobil itu sendiri.
Proses
taaruf
Dalam upaya ta’aruf dengan calon
pasangan, pihak pria dan wanita dipersilakan menanyakan apa saja yang kira-kira
terkait dengan kepentingan masing-masing nanti selama mengarungi kehidupan.
Tapi tentu saja semua itu harus dilakukan dengan adab dan etikanya. Tidak boleh
dilakukan cuma berdua saja. Harus ada yang mendampingi dan yang utama adalah
wali atau keluarganya. Jadi, taaruf bukanlah bermesraan berdua, tapi lebih
kepada pembicaraan yang bersifat realistis untuk mempersiapkan sebuah
perjalanan panjang berdua.
Tujuan
taaruf
Taaruf adalah media syar`i yang
dapat digunakan untuk melakukan pengenalan terhadap calon pasangan. Sisi yang
dijadikan pengenalan tidak hanya terkait dengan data global, melainkan juga
termasuk hal-hal kecil yang menurut masing-masing pihak cukup penting. Misalnya
masalah kecantikan calon istri, dibolehkan untuk melihat langsung wajahnya
dengan cara yang seksama, bukan cuma sekedar curi-curi pandang atau ngintip
fotonya. Justru Islam telah memerintahkan seorang calon suami untuk mendatangi
calon istrinya secara langsung face to face, bukan melalui media foto, lukisan
atau video.
Karena pada hakikatnya wajah
seorang wanita itu bukan aurat, jadi tidak ada salahnya untuk dilihat. Khusus
dalam kasus taaruf, yang namanya melihat wajah itu bukan cuma melirik-melirik
sekilas, tapi kalau perlu dipelototi dengan seksama. Periksalah apakah ada
jerawat numpang tumbuh di sana. Begitu juga dia boleh meminta diperlihatkan
kedua telapak tangan calon istrinya. Juga bukan melihat sekilas, tapi melihat
dengan seksama. Karena telapak tangan wanita bukanlah termasuk aurat.
Manfaat
Taaruf
Selain urusan melihat fisik,
taaruf juga harus menghasilkan data yang berkaitan dengan sikap, perilaku,
pengalaman, cara kehidupan dan lain-lainnya. Hanya semua itu harus dilakukan
dengan cara yang benar dan dalam koridor syariat Islam. Minimal harus ditemani
orang lain baik dari keluarga calon istri atau dari calon suami. Sehingga tidak
dibenarkan untuk pergi jalan-jalan berdua, nonton, boncengan, kencan, nge-date
dan seterusnya dengan menggunakan alasan taaruf. Janganlah ta`aruf menjadi
pacaran, sehingga tidak terjadi khalwat dan ikhtilath antara pasangan yang
belum jadi suami-istri ini.
SEMOGA
BERMANFAAT...
Istilah pacaran itu sendiri bisa
berbeda-beda dalam mengartikannya, bahkan jika itu berarti pacaran para suster
adalah kisah dari pasangan yang hanya karena mencintai dua kekasih dalam suatu
hubungan, untuk bersenang-senang dan menjurus pada kemaksiata, maka tidak diperbolehkan.
Tapi jika pertanyaan pacaran sini sebagai instrumen pendamping untuk
mengidentifikasi calon lebih lanjut, mencatat keterbatasan Kepribadian sesuai
Syari'at harus dijaga, maka itu adalah baik, karena dalam Islam ada istilah
sendiri yaitu Ta'aruf sebelum pernikahan. Ta'aruf tujuannya di sini adalah
hanya untuk mengenali karakter calon pasangan kita, bukan untuk
bersenang-senang atau happy-happy. Pergi sendiri tanpa ditemani mahram atau
keluarga, harus dihindari. Karena kita tidak tahu apa yang bisa dan mungkin
terjadi. Ketentuan ini tetap berlaku meskipun dalam proses menuju pernikahan.
Selama pernikahan belum terjadi wajib mentaati sariat karena masih bukan
muhrim. Pembatasan syariat harus dijaga. Dalam sebuah hadits Shohih Nabi
Muhammad SAW. Hal ini tidak menegaskan "Tidaklah diperkenankan bagi
laki-laki dan perempuan untuk berkhalwat (berduaan), karena sesungguhnya ketiga
dari mereka adalah syetan, kecuali adanya mahram. (HR Ahmad dan Bukhari Muslim,
dari 'Amir bin Rabi'ah)"
Dalam arti bahwa kita hidup
dengan manusia yang memiliki prinsip dan pandangan yang berbeda tentang hidup.
Bahkan di kota-kota besar masyarakat kita dapat dikatakan memiliki
kecenderungan untuk hidup dalam kebebasan. Terkadang dengan kondisi seperti
itu, kita menghadapi dilema bagaimana menempatkan diri dalam dunia sosial yang
kita dapat diterima oleh lingkungan, dan keyakinan atau syariat Islam yang
diawetkan. Tapi sebenarnya aturan yang paling tepat dalam pergaulan, khususnya
dengan lawan jenis, adalah pandai-pandai menempatkan diri dan menjaga hati
Anda. Cobalah untuk memahami situasi ketika kita harus serius dan kapan harus
santai, "berpikir sebelum bertindak" sangat penting. Namun demikian,
menjaga pandangan adalah sangat dianjurkan, tapi inti dari ajaran ini adalah
bagaimana kita menjaga hati. Istilah ini, sebagaimana kita adanya pandangan
tertunduk, jika kita tidak menjaga hati Anda?. Semua tergantung pada niat kita.
Misalnya, dalam kantor atau organisasi di mana kita dituntut untuk berinteraksi
dengan orang, baik pria maupun wanita, kita tentu saja diperbolehkan untuk
melakukan kontak dengan lawan jenis. Pada prinsipnya, di mana niat kita untuk
kebaikan dan batas Kepribadian € ™ i tetap dipertahankan, semua baik-baik saja.
Islam tidak pernah dimaksudkan untuk membuat, tapi itu membuat hidup kita.
Semuanya, tentu saja, diresepkan untuk kebaikan umat manusia ...
Etika
pergaulan dalam islam adalah, khususnya antara lelaki dan perempuan garis
besarnya adalah sbb:
1. Saling menjaga pandangan di
antara laki-laki dan wanita, tidak boleh melihat aurat , tidak boleh memandang
dengan nafsu dan tidak boleh melihat lawan jenis melebihi apa yang dibutuhkan.
(An-Nur:30-31)
2. Sang wanita wajib memakai pakaian
yang sesuai dengan syari'at, yaitu pakaian yang menutupi seluruh tubuh selain
wajah, telapak tangan dan kaki (An-Nur:31)
Hendaknya
bagi wanita untuk selalu menggunakan adab yang islami ketika bermu'amalah
dengan lelaki, seperti:
1. Di waktu mengobrol hendaknya ia
menjahui perkataan yang merayu dan menggoda (Al-Ahzab:32)
2. Di waktu berjalan hendaknya
wanita sesuai dengan apa yang tertulis di surat (An-Nur:31 & Al-Qisos:25)
Tidak
diperbolehkan adanya pertemuan lelaki dan perempuan tanpa disertai dengan
muhrim.
Jika seorang lelaki ingin menarik
hati seorang wanita, biasanya yang ditebarkan adalah berjuta-juta kata puitis
bin manis, penuh janji-janji untuk memikat hati, "Jika kau menjadi istriku
nanti, percayalah aku satu-satunya yang bisa membahagiakanmu," atau
"Jika kau menjadi istriku nanti, hanya dirimu di hatiku" dan
"bla...bla...bla..." Sang wanita pun tersipu malu, hidungnya kembang
kempis, sambil menundukkan kepala, Lidah yang biasanya kelu untuk berbicara
saat bertemu gebetan, tiba-tiba jadi luwes, kadang dibumbui 'ancaman' hanya
karena keinginan untuk mendapatkan doi seorang. Kalo ada yang coba-coba main
mata ama si doi, "Jangan macem-macem lu, gue punya nih!" Amboi...
belum dinikahi kok udah ngaku-ngaku miliknya dia ya? Lha, yang udah nikah aja
ngerti kalo pasangannya itu sebenarnya milik Allah SWT.
Emang iya sih, wanita biasanya
lebih terpikat dengan lelaki yang bisa menyakinkan dirinya apabila ntar udah
menikah bakal selalu sayang hingga ujung waktu, serta bisa membimbingnya kelak
kepada keridhoan Allah SWT. Bukan lelaki yang janji-janji mulu, tanpa berbuat
yang nyata, atau lelaki yang gak berani mengajaknya menikah dengan 1001 alasan
yang di buat-buat. Kalo lelaki yang datang serta mengucapkan janjinya itu
adalah seseorang yang emang kita kenal taat ibadah, akhlak serta budi
pekertinya laksana Rasulullah SAW atau Ali bin Abi Thalib r.a., ini sih gak
perlu ditunda jawabannya, cepet-cepet kepala dianggukkan, daripada diambil
orang lain, iya gak?
Namun realita yang terjadi, terkadang yang
datang itu justru tipe seperti Ramli, Si Raja Chatting, atau malah Arjuna, Si
Pencari Cinta, yang hanya mengumbar janji-janji palsu, lalu bagaimana sang
wanita bisa percaya dan yakin dengan janjinya?Berarti masalahnya adalah
bagaimana cara kita menjelaskan calon pasangan untuk percaya dengan kita?
Pusying... pusying... gimana caranya ya? Ih nyantai aja, semua itu telah diatur
dalam syariat Islam kok, karena caranya bisa dengan proses ta'aruf. Apa sih
yang harus dilakukan dalam ta'aruf? Apa iya, seperti ucapan janji-janji seperti
diatas?
Bagaimana
Ta'aruf yang benar....????
Taaruf
bermakna saling mengenal antara sebagian manusia dengan sebagian lainnya.
Termasuk dalam istilah ini adalah proses saling mengenal antara dua orang lawan
jenis yang ingin menikah. Jika diantara mereka berdua ada kecocokan maka bisa
berlanjut ke jenjang pernikahan namun jika tidak maka proses pun behenti dan
tidak berlanjut.
Taaruf bukanlah pernikahan yang
menghalalkan berdua-duaan layaknya pasangan suami-istri. Di dalam proses taaruf
ini tidak diperbolehkan adanya khalwat (berdua-duaan) di antara dua orang lawan
jenis tersebut karena perbuatan ini melanggar rambu-rambu syar’i dan menjadi
pintu masuknya setan, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam at Tirmidzi bahwa Nabi
shalalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Tidaklah seorang laki-laki
berduaan dengan seorang wanita kecuali ketiganya adalah setan."
Juga apa yang diriwayatkan Imam
Muslim dari Ibnu 'Abbas bahwa dia mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda, "Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang
wanita kecuali wanita itu disertai muhrimnya.”
Taaruf dengan menggunakan
alat-alat komunikasi modern seperti telepon, handphone, email maupun Facebook
memungkinkan terjadinya khalwat di antara mereka berdua serta dapat menimbulkan
fitnah.
Hal itu dikarenakan didalam
proses taaruf inilah si lelaki akan menggali tentang data-data si wanita,
begitu sebaliknya si wanita akan menggali tentang data-data si lelaki, baik
data-data pribadi, pendidikan, keluarga atau lainnya yang diperlukan mereka
berdua. Dan ketika dilakukan dengan menggunakan handphone, email maupun
Facebook maka terjadi proses komuniksi dua arah secara langsung antara mereka
berdua bahkan tidak jarang terjadi hingga beberapa kali. Dan jika ini terjadi
maka sesungguhnya setan telah berhasil memperdaya dan menipu mereka berdua.
Syeikh Ibnu Jibrin pernah ditanya
tentang hukum surat menyurat antara seorang pemuda dan pemudi, sebagaimana
diketahui bahwa didalam surat menyurat ini bersih dari mesum, percumbuan dan
percintaan?
Beliau
menjawab:
“Tidak
diperbolehkan seorang pemuda mengirimkan surat kepada wanita yang bukan
mahramnya dikarenakan hal itu mengandung fitnah. Memang terkadang orang yang
mengirim surat tidak merasa bahwa hal itu adalah fitnah akan tetapi setan
senantiasa menggoda si pemuda dan pemudi itu.”
“Sesungguhnya
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan seseorang yang
mendengar tentang dajjal agar menjauhinya. Dan beliau shalallahu ‘alaihi wa
sallam juga memberitahu bahwa seorang lelaki benar-benar akan mendatangi dajjal
dan mengira seorang mukmin akan tetapi ia tetap mengikuti dajjal sehingga ia
terkena fitnah.”
“Didalam
surat menyurat antara para pemudi dan pemuda terdapat fitnah dan bahaya besar
yang harus dihindari meskipun si penanya mengatakan bahwa didalamnya tidak
terdapat dari mesum, percumbuan dan percintaan.” (Fatawa al Marah)
Oleh
karena itu sebaiknya anda lanjutkanlah proses taaruf itu —jika masih
diperlukan— dengan pertemuan yang
disertai orang lain atau mahramnya.
Wallahu
A’lam.
Ta'aruf
sebagai sarana yang objektif dalam melakukan pengenalan dan pendekatan. Ta'aruf
sangat berbeda dengan pacaran. Ta`aruf secara syar`i memang diperintahkan oleh
Rasulullah SAW bagi pasangan yang ingin nikah. Perbedaan hakiki antara pacaran
dengan ta'aruf adalah dari segi tujuan dan manfaat.
Jika
tujuan pacaran lebih kepada kenikmatan sesaat, zina dan maksiat. Sedang ta'aruf
jelas sekali tujuannya yaitu untuk mengetahui kriteria calon pasangan.
Dalam
pacaran, mengenal dan mengetahui hal-hal tertentu calon pasangan dilakukan
dengan cara yang sama sekali tidak memenuhi kriteria sebuah pengenalan. Ibarat
seorang yang ingin membeli mobil second tapi tidak melakukan pemeriksaan, dia
cuma memegang atau mengelus mobil itu tanpa pernah tahu kondisi mesinnya.
Bahkan dia tidak menyalakan mesin atau membuka kap mesinnya. Bagaimana mungkin
dia bisa tahu kelemahan dan kelebihan mobil itu.
Sedangkan
taaruf adalah seperti seorang montir mobil ahli yang memeriksa mesin, sistem
kemudi, sistem rem, sistem lampu dan elektrik, roda dan sebagainya. Bila
ternyata cocok, maka barulah dia melakukan tawar menawar.
Ketika
melakukan ta'aruf, seseorang baik pihak laki atau wanita berhak untuk bertanya
yang mendetail, seperti tentang penyakit, kebiasaan buruk dan baik, sifat dan
lainnya. Kedua belah pihak harus jujur dalam menyampaikannya. Karena bila tidak
jujur, bisa berakibat fatal nantinya.
Namun
secara teknis, untuk melakukan pengecekan, calon pembeli tidak pernah boleh
untuk membawa pergi mobil itu sendiri. Silahkan periksa dengan baik dan kalau
tertarik, mari bicara harga.
Dalam
upaya ta'aruf dengan calon pasangan, pihak laki dan wanita dipersilahkan
menanyakan apa saja yang kira-kira terkait dengan kepentingan masing-masing
nanti selama mengarungi kehidupan. Tapi tentu saja semua itu harus dilakukan
dengan adab dan etikanya. Tidak boleh dilakukan cuma berdua saja. Harus ada
yang mendampingi dan yang utama adalah wali atau keluarganya. Jadi ta`aruf
bukanlah bermesraan berdua, tapi lebih kepada pembicaraan yang bersifat
realistis untuk mempersiapkan sebuah perjalanan panjang berdua.
Taaruf
adalah media syar`i yang dapat digunakan untuk melakukan pengenalan terhadap
calon pasangan. Sisi yang dijadikan pengenalan tidak hanya terkait dengan data
global, melainkan juga termasuk hal-hal kecil yang menurut masing-masing pihak
cukup penting.
Misalnya
masalah kecantikan calon istri, dibolehkan untuk melihat langsung wajahnya
dengan cara yang seksama, bukan cuma sekedar curi-curi pandang atau ngintip
fotonya. Justru Islam telah memerintahkan seorang calon suami untuk mendatangi
calon istrinya secara langsung face to face, bukan melalui media foto, lukisan
atau video.
Karena
pada hakikatnya wajah seorang wanita itu bukan aurat, jadi tidak ada salahnya
untuk dilihat. Dan khusus dalam kasus ta`aruf, yang namanya melihat wajah itu
bukan cuma melirik-melirik sekilas, tapi kalau perlu dipelototi dengan seksama.
Periksalah apakah ada jerawat numpang tumbuh disana. Begitu juga dia boleh
meminta diperlihatkan kedua tapak tangan calon istrinya. Juga bukan melihat
sekilas, tapi melihat dengan seksama. Karena tapak tangan wanita pun bukan
termasuk aurat.
Lalu
bagaimana dengan keharusan ghadhdhul bashar ? Bab ghadhdhul bashar tempatnya
bukan saat ta`aruf, karena pada saat ta`aruf, secara khusus Rasulullah SAW
memang memerintahkan untuk melihat dengan seksama dan teliti.
Selain
urusan melihat pisik, taaruf juga harus menghasilkan data yang berkaitan dengan
sikap, perilaku, pengalaman, cara kehidupan dan lain-lainnya. Hanya semua itu
harus dilakukan dengan cara yang benar dan dalam koridor syari`ah Islam.
Minimal harus ditemani orang lain baik dari keluarga calon istri atau dari
calon suami. Sehingga tidak dibenarkan untuk pergi jalan-jalan berdua, nonton,
boncengan, kencan, ngedate dan seterusnya dengan menggunakan alasan ta`aruf.
Janganlah ta`aruf menjadi pacaran. Sehingga tidak terjadi khalwat dan ikhtilath
antara pasangan yang belum jadi suami istri ini.
Mengenai
jarak antara lamaran dan akad,. tidak ada batasan tertentu. Tetapi sebaiknya
akad dilakukan secepat mungkin setelah lamaran untuk menghindarkan fitnah.
Bahkan, tidak mengapa menanyakan tentang kemungkinan pelaksanaan akad tersebut
saat lamaran dilakukan.
lalu,
mengenai cara menolak ajakan menikah seorang akhwat tentu saja hal itu harus
dilakukan dengan ucapan yang baik yang tidak menyinggungnya, entah secara
langsung atau lewat cara lain yang dipandang bisa dipahami secara baik olehnya.
Hadaanallahu
Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu
`Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.
Ta’aruf
sebagian
dari kamu mungkin sudah mengenal atau pernah mendengar kata ta’aruf, di dalam
islam sendiri ta’aruf diartikan sebagai mengenal, dalam artian kita tuh di
suruh untuk saling mengenal kepada orang lain, ga cuma di lingkungan sekitar
aja tapi juga kepada semua, terlebih lagi dengan saudara muslim. Dalam surat
cintanya, Alloh menganjurkan kita untuk saling ta’aruf, buat kamu2 yang sudah
nikah ayatnya populer banget n biasanya di tempatin di undangan walimah . Yup, bener banget, Surat Al Hujuraat ayat
13, kurang lebih begini arti ayatnya ” Hai manusia, sesungguhnya Kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang
yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Mengenal. “
Mungkin
sedikit pengertian mengenai ta’aruf tadi sudah membuka wawasan kamu2 semua,
paling ga mengerti apa itu ta’aruf maaf
taunya baru segitu aja hi hi hi..!! ntar nyambung lagi klo udah baca referensi
buku yang lainnya. But, kali ini saya teh mau sharing ke kamu2 semua mengenai
ta’aruf yang lebih spesifik, tau donk….!! he he he…!!
Ga
usah malu, segan, apalagi tabu, tuk ngebahas ini. ta’aruf dalam rangka mancari
pasangan hidup yang tepat(ga pake kata cocok, coz klo cocok itu relatif n
terkesan hanya diawalnya saja) yang tentunya juga mempunyai satu tujuan yang
sama, kamu tau ga tujuannya apa…!! hari gennee ga tau(gubraaakk…!!) tujuannya
adalah membangun keluarga yang sakinah, mawadah, n warahmah. nah untuk mencapai
tujuan itu kamu juga harus mengawalinya juga dengan cara yang baik/ahsan. tuk
menjawab keinginan kamu itu Islam sudah memberikan jalan keluarnya. yaaa
ta’aruf itu…
Ta’arufnya
seperti apa sich….!!! eiiit…..sabar ,
sebelum kita ngebahas lebih jauh ada baiknya kmu mengenal dulu maksud dari
ta’aruf tsb, yupz…kmu harus tetapin tujuannya “Menikah” klo kamu cuma main2
mending ga usah dech itu pertanda klo kamu belum siap alias belum dewasa. n then
dalam ta’aruf ada deadline juga lhoo…!! cukup 3 bulan aja. Haaahh….!! kok di
batasin sich “HARUS” kenapa musti dibatasin coz, di khawatirkan klo lebih dari
itu bisa aja tujuan kamu tuk menikah menjadi sirna atau malah bisa terjerumus
ke yang namanya pacaran, semakin lama kamu berinteraksi dengan si dia semakin
rentan kebersihan hatimu. So, Say No Pacaran yaa..!!
Siap
Ta’aruf, Siap Nikah
Ga
cuma nikah aja yg butuh persiapan, ternyata ta’ruf pun juga butuh. Beberapa hal
yang perlu kamu persiapkan diantaranya :
Mental
Usia
ga ngejamin kesiapan orang tuk menikah. ketika kamu memutuskan ta’aruf dengan
seseorang kamu harus siap dengan konsekuensi yaitu “Menikah”. Buang jauh2
perasaan belum bisa menjalani kehidupan pernikahan, coz semua itu hanya godaan
syaitan. Mulailah dari sekarang mempersiapkan diri. Inga-Inga rasul pernah
bersabda”Bukan termasuk golonganku orang yang tidak mau menikah”. Sebagian
temen yg saya tanya, blm mau menikah karena masih banyak cita2nya yg belum
kesampaian, mulai dari mau lanjutin kuliah, kejar karir, sampai nunggu kakaknya
nikah duluan wahh repot deh klo begini, padahalkan kuliah pun masih bisa di
lanjutkan walaupun kamu telah menikah yang penting kamu bisa memanaje dan
mengkomunikasikannya dengan pasangan kamu. mungkin saja suami/istrimu malah
bisa manjadi partner dalam meraih cita2.
Finansial
Wuuiih
sabar , ga usah mengkerutkan dahi gtu
donk. Mau- ga mau kita memang harus mempersiapkan point ini sedini mungkin.
Tips buat kamu2 yang susah banget nabung, coba ubah manajeman keuangan yang
selama ini kamu jalankan, mulai saat ini sisihkan sebagian gaji kamu setelah
menerimanya, ini penting banget tuk menghindari pola kamu2 yang konsumtif, klo
perlu beli sebuah celengan n masukin dech segera ketika penghasilan kmu terima.
atau bisa juga pake cara saya, buka rekening di bank yang paling sedikit /susah
dicari ATM nya, kemudian setorkan uangnya sesegera mungkin.
Ilmu
Ini
yang ga kalah penting, mulai saat ini kamu musti bekalin diri dengan yang
namanya ilmu rumah tangga? ehm..ehm…!! Memang apa sich…!! banyak banget tuch
mulai dari kewajiban suami-istri, hukum pernikahan sampai gimana cara mendidik
anak. banyakkan makanya hayuuh atuh
mulai sekarang belajar n banyak baca buku ttg pernikahan, ingat bukan buku yang
membahas indahnya pernikahan lhoo yaa..jangan salah…!! setalah kamu
mengetahuinya jangan lupa tuk diamalkan. memang berat sich, tapi berusahalah!
Chayo…!!
Keluarga
Besar
Khusus
buat akhwatnya, poin ini perlu di perhatikan. Karena masa ta’aruf yang singkat
ada baiknya klo kmu mulai memperbincangkan hal ini dengan orang tua, coz banyak
ditemui juga justru si akhwat baru memberitahukan ke orang tua rencana
walimahnya di beberapa bulan kedepan. Nah lhoo shock ga tuch orang tua setelah
tau , bisa juga malah justru orang tuamu
akan menolak itu semua. coba dech dikomunikasikan misalkan “Ma, karena
ade(sebutan anak) ga pacaran, jadi nanti mama jangan kaget ya klo tiba2 ada
yang datang melamar…” or “Ma, klo ade nikah, ade maunya konsep pernikahannya
begini, begini n begini…” kurang lebih gtu dech
Perantara
Ta’aruf
Siapa
aja sich yang bisa menjadi perantara kita dalam berta’aruf…? Pertama adalah
ortu kemudian temen, Murrabi/ahnya.
Kriteria
klo
yang ini sich bisa segambreng tuk
dijabarin, but saya ga akan membahas panjang lebar mengenai ini. intinya sich
seleksi kembali kriteria tersebut apakah masih bisa dikompromikan, kayak musti
putih, dari suku tertentu or chubby itu mah dikompromikan aja dehh. OK, tooh
yang paling pentingkan pemahaman ttg agamanya. tuk panduan buat kmu dalam
menentukan kriteria tsb, kmu bisa mulai mengumpulkan kriteria tersebut dari
temen2 terdekatmu, bisa itu sifatnya, kebiasaan maupun hobinya yang kmu anggap
punya nilai lebih.
Pertanyaan
yang sering ditanyakan ketika ta’aruf
1.
Tujuan menikah, coba pikirkan kira2 apa jawaban kmu atas pertanyaan tsb.
2.
Pemahaman ttg agama/Tsaqofah Islamiyah,
3.
Pengenalan thp Allah, Rasulallah &Al Quran
4.
Masa2 sulit & cara menyikapinya
5.
Bagaimana sikapnya jika tidak suka thp sesuatu
6.
Tugas suami/istri
7.
Jika istri bekerja mana yang lebih penting
8.
Cara mengelola keuangan(pertanyaan buat akhwat)
9.
Semangat meraih maisyah(pertanyaan buat ikhwan) n
akhwat
boleh juga menanyakan pendapatan dari ikhwannya/bln.
N
masih seabrek ilmu yang bisa kmu pelajari dibuku ini. Penulisnya Leyla
Imtichanah “Ta’aruf Kereen Pacaran Sorry Men!” Penerbitnya Lingkar pena
publishing. silahkan cari di toko buku terdekat yaa.
Coz,
klo kita tulis semua di sini ga ada yg beli donk nanti bukunya he he he he…!!
bukannya begitu mba’ leyla
Untukmu
Kader Dakwah
Di
lapangan dalam dua decade terakhir ini mulai nampak kesadaran untuk memahami
dakwah secara luas daripada sekedar pernyataan secara lisan di mibar-mimbar. Ia
adalah pencerahan, pembebasan, pemberdayaan, penataan dan pelaksanaan.
Indonesia telah menjadi lahan subur bagi pesan-pesan dakwah tersebut, bukan
karena ia pesan impor melainkan karena sikap moderatnya dan wasathiyahnya
sejalan dengan karakter dan watak bangsa ini.
1.
Al-Fahmu
anda
yakin bahwa fikrah (pandangan) kami adalah fikrah islamiyah yang solid dan
tangguh, serta anda memahami Islam seperti apa yang kami pahami dalam kerangkan
20 landasan (al ushuul al’isyruun). Dengan melihat kedudukan ilmu, nyatalah
bahwa yang dimaksud dengan ilmu dan kemuliaannya itulah ilmu nafi’ (ilmu yang
bermanfaat). Karena itulah maka seluruh kata ilmu (dalam Al-Quran dan Hadits)
maksudnya ilmu nafi’, menurut Ibnu Athaillah. Selebihnya ia menjadi beban
tanggungjawab dan penyesalan, karena berhenti pada jidal (debat) dan muhabah
(kebanggaan) dan alat menarik keuntungan dunia. Ilmu selalu membuat empunya
semakin rendah hati, sensitive dan sungguh-sungguh.
2.
Al-Ikhlash
yang
dimaksud al-ikhlas adalah seluruh ucapan, perbuatan dan perjuangan seorang
aktivis Muslim selalu ditujukan dan dimaksudkan hanya kepada Allah ta’ala saja,
serta memohon ridhoNya semata, juga kebaikan ganjaranNya. Tidak ingin mengharap
imbalan apapun, baik berupa harta, tahta, martabat dan kedudukan, tanpa melihat
maju mundurnya perkembangan dakwah.
Dengan
demikian ia telah menjadi seorang jundi (prajurit) baik secara intelektual
maupun aqidah, bukan seorang jundi yang mencari imbalan dan manfaat, seperti
yang difirmankan oleh Allah SWT:
“sesungguhnya
shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan Semesta
Alam” (Q.S Al-An’am: 162).
Dengan
demikian seorang aktivis muslim selalu memahami doktrin “Allah tujuan kami” dan
“Allah Maha Besar dan bagiNya segala puja dan puji” (Hasan Al-Banna)
3.
Al-‘Amal
yang
diinginkan dari al-‘amal adalah buah dari ilmu dan ikhlas, seperti yang
disebutkan dalam Quranul Karim: “dan katakanlah: “beramallah kalian, maka Allah
dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat kalian itu dan kalian akan
dikembalikan kepada Allah yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu
diberitakanNya kepada kalian apa yang telah kalian amalkan” (Q.S At-Taubah:
105)
adapun
urut-urutan amal:
1.mengoreksi
diri dan memperbaiki diri
2.membentuk
dan membina keluarga muslim
3.memberi
petunjuk dan membimbing masyarakat dengan dakwah
4.membebaskan
tanah air dari penguasa asing
5.memperbaiki
pemerintahan
6.mengembalikan
kepemimpinan dunia kepada umat Islam
7.menjadi
soko guru dunia dengan menyebarkan dakwah islamiyah ke seluruh penjuru dunia.
4.
Al-Jihad
yang
dimaksud al-jihad adalah suatu kewajiban yang masanya membentang (tak akan
berhenti) sampai hari kiamat dan apa yang dikandung dari sabda Rasulullah SAW:
“barang siapa yang mati, sedangkan ia tidak berjuang atau minimal punya niat
untuk berjuang, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah”
adapun
urutan paling bawah dari jihad adalah ingkar hati dan urutan tertinggi adalah
mengangkat senjata di jalan Allah. Sedangkan ditengah-tengah itu adalah jihad
lisan, pena, tangan, berkata benar di hadapan penguasa tirani.
Dakwah
tidak akan hidup dan berkembang kecuali dengan jihad. Karena kedudukan dakwah
yang begitu tinggi dan bentangannya yang begitu luas maka jihad merupakan jalan
satu-satunya untuk bisa menghantarkannya. Juga betapa besar pengorbanan dalam
mengokohkan posisi dakwah itu dan apa yang akan diperoleh para pengemban dakwah
di sisi Allah SWT. firmanNya:
“dan
berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad” (Q.S Al-Hajj: 78)
dengan
demikian anda sebagai aktivis dakwah tahu akan hakikat doktrin “jihad adalah
jalan kami” (Hasan Al-Banna)
5.
At-Tadhdhiyah
yang
dimaksud adalah pengorbanan baik jiwa, raga, harta, waktu serta segala sesuatu
dalam rangka mencapai tujuan. Dan tidak ada kata jihad di dunia ini tanpa
adanya rasa pengorbanan. Anda jangan merasa bahwa pengorbanan anda akan hilang
begitu saja demi meniti jalan fikrah ini. Tapi itu tak lain adalah sebuah
ganjaran yang melimpah dan pahala yang besar, barang siapa yang tak mau
berkorban dengan kami maka berdosa. Karena Allah ta’ala telah menegaskan hal
ini banyak sekali dalam Al-Quran. Dengan memahami ini maka anda akan memahami
doktrin “mati di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi” (Hasan Al-Banna)
6.
At-Tho’ah
yang
dimaksud adalah melaksanakan sekaligus menjalankan perintah tanpa reserve, baik
dalam kelapangan maupun kesempitan, dalam suka maupun duka (Hasan Al-Banna).
Mustahilkah
jaman kini dari istijabah yang menyuburberkahkan para kader dan aktivis dakwah
dari kucuran doa para masyaikh dan pemimpin atas pribadi-pribadi ataupun
kelompok? Ataukah para pembangkang dan kaum arogan telah siap menerima limpahan
yang akan menenggelamkan mereka karena kerontang ketaatan di hati mereka?
7.
Ats-Tsabat
yang
dimaksud adalah tetaplah anda sebagai aktivis dakwah yang selalu aktif berjuang
di jalan yang ditujunya, walaupun masanya panjang bahkan sampai bertahun-tahun,
sampai nanti bertemu Allah Rabbul ‘Alamin dalam kondisi seperti itu, dengan
meraih salah satu dari dua kebaikan, berhasil mencapai tujuan atau meraih
syahadah pada akhirnya.
Waktu
bagi kami adalah bagian dari solusi, sebab jalan dakwah itu panjang dan jauh
jangkauannya serta banyak rintangannya. Tapi semua itu adalah cara untuk
mencapai tujuan dan ada nilai tambah berupa pahala dan balasan yang besar serta
menarik. (Hasan Al-Banna)
8.
At-Tajarrud
maknanya
adalah agar anda membersihkan fikrah anda dari segala pengaruh dasar-dasar
hidup dan sosok pribadi orang-orang selain fikrahmu, sebab ia paling tinggi dan
paling komplit dari yang lainnya. Firman Allah SWT:
“celupan
Allah, dan siapakah yang paling baik celupannya dari Allah” (Q.S Al-Baqarah:
138)
aku
tidak peduli ketika dibunuh sebagai muslim
jasadku
jatuh dimana
Bila
Tuhan menghendaki dengan izinNya
Ia
akan berkahi kepingan tubuh yang koyak (Abdullah bin Rawahah RA)
9.
Al-Ukhuwah
artinya
adalah agar seorang aktivis dakwah menggabungkan antara hati dan ruh dengan
tali aqidah, sementara aqidah itu sendiri merupakan tali yang paling kuat dan
paling mahal. Ukhuwah adalah saudara seiman, sementara perpecahan itu adalah
saudara kekafiran. Kekuatan yang pertama adalah kuatnya persatuan dan kesatuan,
bila tidak ada persatuan bila tak ada cinta kasih, sedangkan derajat cinta yang
paling rendah adalah hati yang selamat dari buruk sangka kepada saudara muslim
lainnya dan yang paling tinggi adalah itsar, yaitu mendahulukan kepentingan
saudaranya daripada kepentingan pribadinya, “dan siapa yang dipelihara dari
kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Q.S Al-Hasyr: 9).
(Hasan Al-Banna).
10.
Ats-Tsiqoh
kepercayaan
dan ketenangan (kemantapan hati) seorang jundi kepada pimpinannya dalam hal
kemampuan dan keikhlasannya, sebab kepercayaan yang dalam hal ini menciptakan
rasa cinta, hormat dan taat. An-nisa: 65
pimpinan
adalah bagian dari dakwah, tak ada dakwah bila tanpa kepemimpinan. Dari rasa
saling percaya antara pemimpin dan para jundinya inilah kemudian lahir kekuatan
struktur dakwah, pengaturan strateginya dalam mencapai tujuan serta kemampuan
menanggulangi segala rintangan dan kesulitan yang menghadang jalan dakwah.
Muhammah: 21.
“ulurkan
tanganmu, aku akan membaiatmu” pinta Umar RA “justru aku akan membaiatmu” jawab
Abu Bakar RA. “engkau lebih utama (afdhal) daripadaku” tukas Umar. “engkau
lebih kuat daripadaku” jawab Abu Bakar.
“kekuatanku
untukmu bergabung dengan keutamaanmu” Umar menutup dialog dan sebuah generasi
baru dimulai.
Tinjauan
: Ta’aruf sebuah Istilah Asal Keren
“Hai
manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu
disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS Al Hujurat :13)
Assalamu’alaykum
warahmatullahi wabarakatuh
Benarkah
ta’aruf sebuah istilah asal keren?? Dan Siapakah yang telah membatasi makna
ta’aruf?? Apakah kesan anda saat membaca judul dan artikel SPPI tentang ta’aruf
itu?? (Kesan saya pribadi..dari judul dan artikel SPPI tersebut adalah..“sinis”
J, wallahu’alam.)
Kali
ini kita mencoba mengkritisi tulisan SPPI yang berhubungan dengan ta’aruf. Udah
pada baca?? Kalau belum, bisa langsung klik disini. Semoga bermanfaat.
SPPI berkata(link)“Pada beberapa tahun terakhir
ini, ada gejala pergeseran makna taaruf. Ada kecenderungan, taaruf tidak lagi
diartikan menurut makna asli yang terkandung dalam Al-Quran, surat al-Hujurât
[49], ayat 13: “Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku li ta‘ârafû (supaya kamu saling kenal). …Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Jadi,
makna asli istilah taaruf itu adalah proses saling kenal dengan siapa pun
selama hayat dikandung badan. Namun sekarang, ada banyak ikhwan yang bilang,
“taaruf adalah perkenalan antara seorang ikhwan dan seorang akhwat yang akan
menikah.” Bahkan, ada tak sedikit akhwat yang ngomong, “taaruf adalah proses
pendekatan selama maksimal tiga bulan antara seorang laki-laki dan seorang
perempuan yang akan menikah.” Aneh, ya?Gimana nggak aneh? Bayangin aja. Mereka
batasi makna taaruf hanya untuk pendekatan ketika akan menikah. Itu pun selama
maksimal tiga bulan saja. Mereka dengung-dengungkan istilah taaruf dengan makna
yang agak “MENYIMPANG”dari makna yang terkandung dalam Al-Quran, surah
al-Hujurât [49], ayat 13. Padahal, mereka kan rajin membaca Al-Quran. Tekun
pula menyimak terjemahnya dan mengkaji isinya. Lantas, apakah mereka itu asal
beda? Asal pake istilah dari bahasa Arab biar kedengaran Islami? Ataukah asal
keren? Sorry, men! Gak usahlah kita “BERPRASANGKA BURUK” kepada mereka.”
J
Sudah baca ikhwah fillah. Saya ingin memulai dari peryataan dibawah dimana SPPI
menyatakan “ga usahlah berprasangka buruk”, lantas..apakah yang dimaksud dengan
“mereka itu asal beda?”…” Asal pake istilah dari bahasa Arab biar kedengaran
Islami”..” Ataukah asal keren?”..” Mereka dengung-dengungkan istilah taaruf
dengan makna yang agak “MENYIMPANG”dari makna yang terkandung dalam Al-Quran”…”
Padahal, mereka kan rajin membaca Al-Quran. Tekun pula menyimak terjemahnya dan
mengkaji isinya”. Subhanallah, wa kafa billahi syahida (Cukuplah Allah SWT
sebagai saksi).
Istilah
ta’aruf atau perkenalan atau berkenalan memang ‘dipopulerkan’ oleh gerakan2
dakwah yang berkembang di Indonesia. Dan faktanya hingga saat ini tidak ada
pergeseran makna atas makna Quraninya(QS Al Hujurat :13). Artinya, ta’aruf bagi
ikhwan dan akhwat adalah meliputi segala hal yang berkaitan dengan aktifitas
berkenalan. Apakah itu berkenalan dalam ta’lim, halaqah, dijalan, dan lain-lain
sampai kepada pengertian “perkenalan” dengan calon pasangan. Nah kira2
motivasinya apa sih menggunakan istilah ta’aruf itu(kalau mau jujur, sebenarnya
bukan saja istilah ta’aruf saja yang dikenalkan oleh gerakan2 dakwah yang ada,
tetapi mulai dari istilah ikhwan akhwat, ana antum, akhi ukhti, afwan, syukron,
jazakallah, ghirah, ghodul bashor, dll)?? “Asal keren kah atau untuk apa
nih??”..InsyaAllah ngga ke situ arahnya, tetapi lebih kepada
mendekatkan(mengenalkan dan menumbuhkan kecintaan) kita-kita kepada bahasa
arab, bahasa rasulullah SAW, dan bahasa Al Quran. Idealnya memang, kita sebagai
muslim/ah bisa berbahasa arab, tapi kalaupun belum bisa, minimal beberapa
istilah kita tahu dan kita paham.
Bagi
mereka yang tidak buru2 taqlid tulisan
SPPI diatas pasti bertanya “Yakin, ta’aruf di Al Quran itu juga bermakna
‘perkenalan’ dengan calon pasangan udah ada dari dulu??”. Tentu saja yakin.
Berkata Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkenaan
dengan tafsir ayat ini (QS Al Hujurat : 13)“..Ayat mulia dan hadits2 syarif (*)
ini telah dijadikan dalil oleh beberapa ulama yang berpendapat bahwa kafaah
(sederajat) didalam masalah nikah itu tidak dijadikan syarat(sederajat-dalam
hal kecantikan/kegantengan, keturunan, harta/kekayaan-ed), dan tidak ada yang
dipersyaratkan kecuali agama. Hal itu didasarkan pada firman Allah Ta’ala
“..Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang
yang paling taqwa diantara kamu”. Sedangkan ulama lainnya mengambil dalil-dalil
lain yang terdapat dalam buku-buku fiqih. Dan kami telah menyebutkannya sekilas
mengenai hal itu dalam kitab Al Ahkam. Segala puji dan sanjungan hanya bagi
Allah semata.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS Al Hujurat:13 Juz 26).
Inilah fakta bahwa ayat 13 dari surat Al
Hujurat itu telah lama dijadikan dalil dalam berta’aruf dengan calon pasangan,
dan ini juga yang dipahami oleh Ustadz Abu Syuqqah sebagaimana perkataannya
“Perkawinan itu memiliki mukaddimah seperti perkenalan(ta’aruf dalam bahasa
arab), khitbah, akad nikah, dan resepsi.”(hal.77).
Jadi
apakah anda masih berkesimpulan bahwa “ta’aruf sebuah istilah asal keren??”
jika iya, ya ga papa J. Tapi mbok ya jangan bilang kalau istilah ta’aruf yang
dimaksudkan juga perkenalan kepada calon pasangan itu baru datang beberapa
tahun belakangan apalagi ditambah dengan perkataan yang tidak ada manfaatnya
seperti diatas. Karena ta’aruf itu maknanya sangat luas, seperti yang saya
katakan diatas, maka ketika kita berbicara perkenalan dengan calon pasangan,
atau perkenalan dengan teman, perkenalan dengan keluarga, dan lain-lain, semua
makna perkenalan itu dikembalikan kepada makna umumnya yakni kata “ta’aruf”.
Dan seperti inilah yang didakwahkan para ulama2 salaf dan khalaf yang berpegang
kepada kitabullah dan sunnah. Tidak ada keraguan bagi orang2 yang berfikir,
insyaAllah. Sehingga tidak akan pernah dapat digantikan istilah ta’aruf ini
dengan istilah ‘tanazhur’ ala SPPI, karena selain tidak memiliki dalil yang
tepat, hal itu bertentangan dengan fakta bahwa dalil ‘tanazhur’ yang dimasukkan
oleh Ustadz Abu Syuqqah ada didalam Bab. MEMINANG. Sedangkan “meminang” atau
“khitbah” adalah proses lanjut setelah melalui perkenalan atau ta’aruf.
Mengenai
penjelasan.. apakah yang dimaksud dengan tanadzhur menurut Abu Syuqqah?? Apakah sama perkataan “memberi perhatian” dan
“memperhatikan” ?? dll..akan disampaikan pada kesempatan lain, insyaAllah.
Wallahu’alam
wastaghfirullah li walakum
Wassalamu’alaykum
warahmatullahi wabarakatuh
(*)
Diantara Hadits2 Syarif (mulia) tersebut :
Dari
Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda :”Sesungguhnya Alla tidak melihat rupa
kalian dan harta benda kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal perbuatan
kalian” (HR Muslim, diriwaytkan juga oleh Ibnu Majah)
Dari
Abdullah bin Amirah, suami Darrah binti Lahab, dari Darrah binti Lahab
radhiallahu’anha, ia berkata :”Ada seorang laki2 yang berdiri menemui nabi SAW
yang ketika itu beliau tengah berada diatas mimbar, lalu ia berkata :’ya
Rasulullah, siapakah orang yang paling baik itu?’ Rasulullah SAW menjawab
‘Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik bacaan (Al Quran)nya, paling
bertaqwa kepada Allah SWT, paling gigih menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, dan
paling giat menyambung tali silaturahim’. (HR Ahmad)