Perbedaan Ta'aruf dengan Pacaran

Senin, 02 Juli 2012


Taaruf adalah kegiatan bersilaturahmi, kalau pada masa ini kita bilang berkenalan bertatap muka, atau main/bertamu ke rumah seseorang dengan tujuan berkenalan dengan penghuninya. Bisa juga dikatakan bahwa tujuan dari berkenalan tersebut adalah untuk mencari jodoh. Taaruf bisa juga dilakukan jika kedua belah pihak keluarga setuju dan tinggal menunggu keputusan anak untuk bersedia atau tidak untuk dilanjutkan ke jenjang khitbah - taaruf dengan mempertemukan yang hendak dijodohkan dengan maksud agar saling mengenal.
Sebagai sarana yang objektif dalam melakukan pengenalan dan pendekatan, taaruf sangat berbeda dengan pacaran. Taaruf secara syar`i memang diperintahkan oleh Rasulullah SAW bagi pasangan yang ingin nikah. Perbedaan hakiki antara pacaran dengan ta’aruf adalah dari segi tujuan dan manfaat. Jika tujuan pacaran lebih kepada kenikmatan sesaat, zina, dan maksiat. Taaruf jelas sekali tujuannya yaitu untuk mengetahui kriteria calon pasangan.
Perbedaan taaruf dengan pacaran
 Dalam pacaran, mengenal dan mengetahui hal-hal tertentu calon pasangan dilakukan dengan cara yang sama sekali tidak memenuhi kriteria sebuah pengenalan. Ibarat seorang yang ingin membeli mobil second, tapi tidak melakukan pemeriksaan, dia cuma memegang atau mengelus mobil itu tanpa pernah tahu kondisi mesinnya. Bahkan dia tidak menyalakan mesin atau membuka kap mesinnya. Bagaimana mungkin dia bisa tahu kelemahan dan kelebihan mobil itu.
Sedangkan taaruf adalah seperti seorang montir mobil yang ahli memeriksa mesin, sistem kemudi, sistem rem, sistem lampu dan elektrik, roda dan sebagainya. Bila ternyata cocok, maka barulah dia melakukan tawar-menawar. Ketika melakukan taaruf, seseorang baik pihak pria atau wanita berhak untuk bertanya yang mendetil, seperti tentang penyakit, kebiasaan buruk dan baik, sifat dan lainnya. Kedua belah pihak harus jujur dalam menyampaikannya. Karena bila tidak jujur, bisa berakibat fatal nantinya. Namun secara teknis, untuk melakukan pengecekan, calon pembeli tidak pernah boleh untuk membawa pergi mobil itu sendiri.
Proses taaruf
Dalam upaya ta’aruf dengan calon pasangan, pihak pria dan wanita dipersilakan menanyakan apa saja yang kira-kira terkait dengan kepentingan masing-masing nanti selama mengarungi kehidupan. Tapi tentu saja semua itu harus dilakukan dengan adab dan etikanya. Tidak boleh dilakukan cuma berdua saja. Harus ada yang mendampingi dan yang utama adalah wali atau keluarganya. Jadi, taaruf bukanlah bermesraan berdua, tapi lebih kepada pembicaraan yang bersifat realistis untuk mempersiapkan sebuah perjalanan panjang berdua.
Tujuan taaruf
Taaruf adalah media syar`i yang dapat digunakan untuk melakukan pengenalan terhadap calon pasangan. Sisi yang dijadikan pengenalan tidak hanya terkait dengan data global, melainkan juga termasuk hal-hal kecil yang menurut masing-masing pihak cukup penting. Misalnya masalah kecantikan calon istri, dibolehkan untuk melihat langsung wajahnya dengan cara yang seksama, bukan cuma sekedar curi-curi pandang atau ngintip fotonya. Justru Islam telah memerintahkan seorang calon suami untuk mendatangi calon istrinya secara langsung face to face, bukan melalui media foto, lukisan atau video.

Karena pada hakikatnya wajah seorang wanita itu bukan aurat, jadi tidak ada salahnya untuk dilihat. Khusus dalam kasus taaruf, yang namanya melihat wajah itu bukan cuma melirik-melirik sekilas, tapi kalau perlu dipelototi dengan seksama. Periksalah apakah ada jerawat numpang tumbuh di sana. Begitu juga dia boleh meminta diperlihatkan kedua telapak tangan calon istrinya. Juga bukan melihat sekilas, tapi melihat dengan seksama. Karena telapak tangan wanita bukanlah termasuk aurat.
Manfaat Taaruf
Selain urusan melihat fisik, taaruf juga harus menghasilkan data yang berkaitan dengan sikap, perilaku, pengalaman, cara kehidupan dan lain-lainnya. Hanya semua itu harus dilakukan dengan cara yang benar dan dalam koridor syariat Islam. Minimal harus ditemani orang lain baik dari keluarga calon istri atau dari calon suami. Sehingga tidak dibenarkan untuk pergi jalan-jalan berdua, nonton, boncengan, kencan, nge-date dan seterusnya dengan menggunakan alasan taaruf. Janganlah ta`aruf menjadi pacaran, sehingga tidak terjadi khalwat dan ikhtilath antara pasangan yang belum jadi suami-istri ini.
SEMOGA BERMANFAAT...
Istilah pacaran itu sendiri bisa berbeda-beda dalam mengartikannya, bahkan jika itu berarti pacaran para suster adalah kisah dari pasangan yang hanya karena mencintai dua kekasih dalam suatu hubungan, untuk bersenang-senang dan menjurus pada kemaksiata, maka tidak diperbolehkan. Tapi jika pertanyaan pacaran sini sebagai instrumen pendamping untuk mengidentifikasi calon lebih lanjut, mencatat keterbatasan Kepribadian sesuai Syari'at harus dijaga, maka itu adalah baik, karena dalam Islam ada istilah sendiri yaitu Ta'aruf sebelum pernikahan. Ta'aruf tujuannya di sini adalah hanya untuk mengenali karakter calon pasangan kita, bukan untuk bersenang-senang atau happy-happy. Pergi sendiri tanpa ditemani mahram atau keluarga, harus dihindari. Karena kita tidak tahu apa yang bisa dan mungkin terjadi. Ketentuan ini tetap berlaku meskipun dalam proses menuju pernikahan. Selama pernikahan belum terjadi wajib mentaati sariat karena masih bukan muhrim. Pembatasan syariat harus dijaga. Dalam sebuah hadits Shohih Nabi Muhammad SAW. Hal ini tidak menegaskan "Tidaklah diperkenankan bagi laki-laki dan perempuan untuk berkhalwat (berduaan), karena sesungguhnya ketiga dari mereka adalah syetan, kecuali adanya mahram. (HR Ahmad dan Bukhari Muslim, dari 'Amir bin Rabi'ah)"
Dalam arti bahwa kita hidup dengan manusia yang memiliki prinsip dan pandangan yang berbeda tentang hidup. Bahkan di kota-kota besar masyarakat kita dapat dikatakan memiliki kecenderungan untuk hidup dalam kebebasan. Terkadang dengan kondisi seperti itu, kita menghadapi dilema bagaimana menempatkan diri dalam dunia sosial yang kita dapat diterima oleh lingkungan, dan keyakinan atau syariat Islam yang diawetkan. Tapi sebenarnya aturan yang paling tepat dalam pergaulan, khususnya dengan lawan jenis, adalah pandai-pandai menempatkan diri dan menjaga hati Anda. Cobalah untuk memahami situasi ketika kita harus serius dan kapan harus santai, "berpikir sebelum bertindak" sangat penting. Namun demikian, menjaga pandangan adalah sangat dianjurkan, tapi inti dari ajaran ini adalah bagaimana kita menjaga hati. Istilah ini, sebagaimana kita adanya pandangan tertunduk, jika kita tidak menjaga hati Anda?. Semua tergantung pada niat kita. Misalnya, dalam kantor atau organisasi di mana kita dituntut untuk berinteraksi dengan orang, baik pria maupun wanita, kita tentu saja diperbolehkan untuk melakukan kontak dengan lawan jenis. Pada prinsipnya, di mana niat kita untuk kebaikan dan batas Kepribadian € ™ i tetap dipertahankan, semua baik-baik saja. Islam tidak pernah dimaksudkan untuk membuat, tapi itu membuat hidup kita. Semuanya, tentu saja, diresepkan untuk kebaikan umat manusia ...
Etika pergaulan dalam islam adalah, khususnya antara lelaki dan perempuan garis besarnya adalah sbb:
1.      Saling menjaga pandangan di antara laki-laki dan wanita, tidak boleh melihat aurat , tidak boleh memandang dengan nafsu dan tidak boleh melihat lawan jenis melebihi apa yang dibutuhkan. (An-Nur:30-31)
2.      Sang wanita wajib memakai pakaian yang sesuai dengan syari'at, yaitu pakaian yang menutupi seluruh tubuh selain wajah, telapak tangan dan kaki (An-Nur:31)
Hendaknya bagi wanita untuk selalu menggunakan adab yang islami ketika bermu'amalah dengan lelaki, seperti:
1.      Di waktu mengobrol hendaknya ia menjahui perkataan yang merayu dan menggoda (Al-Ahzab:32)
2.      Di waktu berjalan hendaknya wanita sesuai dengan apa yang tertulis di surat (An-Nur:31 & Al-Qisos:25)
Tidak diperbolehkan adanya pertemuan lelaki dan perempuan tanpa disertai dengan muhrim.
Jika seorang lelaki ingin menarik hati seorang wanita, biasanya yang ditebarkan adalah berjuta-juta kata puitis bin manis, penuh janji-janji untuk memikat hati, "Jika kau menjadi istriku nanti, percayalah aku satu-satunya yang bisa membahagiakanmu," atau "Jika kau menjadi istriku nanti, hanya dirimu di hatiku" dan "bla...bla...bla..." Sang wanita pun tersipu malu, hidungnya kembang kempis, sambil menundukkan kepala, Lidah yang biasanya kelu untuk berbicara saat bertemu gebetan, tiba-tiba jadi luwes, kadang dibumbui 'ancaman' hanya karena keinginan untuk mendapatkan doi seorang. Kalo ada yang coba-coba main mata ama si doi, "Jangan macem-macem lu, gue punya nih!" Amboi... belum dinikahi kok udah ngaku-ngaku miliknya dia ya? Lha, yang udah nikah aja ngerti kalo pasangannya itu sebenarnya milik Allah SWT.
Emang iya sih, wanita biasanya lebih terpikat dengan lelaki yang bisa menyakinkan dirinya apabila ntar udah menikah bakal selalu sayang hingga ujung waktu, serta bisa membimbingnya kelak kepada keridhoan Allah SWT. Bukan lelaki yang janji-janji mulu, tanpa berbuat yang nyata, atau lelaki yang gak berani mengajaknya menikah dengan 1001 alasan yang di buat-buat. Kalo lelaki yang datang serta mengucapkan janjinya itu adalah seseorang yang emang kita kenal taat ibadah, akhlak serta budi pekertinya laksana Rasulullah SAW atau Ali bin Abi Thalib r.a., ini sih gak perlu ditunda jawabannya, cepet-cepet kepala dianggukkan, daripada diambil orang lain, iya gak?
 Namun realita yang terjadi, terkadang yang datang itu justru tipe seperti Ramli, Si Raja Chatting, atau malah Arjuna, Si Pencari Cinta, yang hanya mengumbar janji-janji palsu, lalu bagaimana sang wanita bisa percaya dan yakin dengan janjinya?Berarti masalahnya adalah bagaimana cara kita menjelaskan calon pasangan untuk percaya dengan kita? Pusying... pusying... gimana caranya ya? Ih nyantai aja, semua itu telah diatur dalam syariat Islam kok, karena caranya bisa dengan proses ta'aruf. Apa sih yang harus dilakukan dalam ta'aruf? Apa iya, seperti ucapan janji-janji seperti diatas?
Bagaimana Ta'aruf yang benar....????
Taaruf bermakna saling mengenal antara sebagian manusia dengan sebagian lainnya. Termasuk dalam istilah ini adalah proses saling mengenal antara dua orang lawan jenis yang ingin menikah. Jika diantara mereka berdua ada kecocokan maka bisa berlanjut ke jenjang pernikahan namun jika tidak maka proses pun behenti dan tidak berlanjut.
Taaruf bukanlah pernikahan yang menghalalkan berdua-duaan layaknya pasangan suami-istri. Di dalam proses taaruf ini tidak diperbolehkan adanya khalwat (berdua-duaan) di antara dua orang lawan jenis tersebut karena perbuatan ini melanggar rambu-rambu syar’i dan menjadi pintu masuknya setan, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam at Tirmidzi bahwa Nabi shalalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali ketiganya adalah setan."
Juga apa yang diriwayatkan Imam Muslim dari Ibnu 'Abbas bahwa dia mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali wanita itu disertai muhrimnya.”
Taaruf dengan menggunakan alat-alat komunikasi modern seperti telepon, handphone, email maupun Facebook memungkinkan terjadinya khalwat di antara mereka berdua serta dapat menimbulkan fitnah.
Hal itu dikarenakan didalam proses taaruf inilah si lelaki akan menggali tentang data-data si wanita, begitu sebaliknya si wanita akan menggali tentang data-data si lelaki, baik data-data pribadi, pendidikan, keluarga atau lainnya yang diperlukan mereka berdua. Dan ketika dilakukan dengan menggunakan handphone, email maupun Facebook maka terjadi proses komuniksi dua arah secara langsung antara mereka berdua bahkan tidak jarang terjadi hingga beberapa kali. Dan jika ini terjadi maka sesungguhnya setan telah berhasil memperdaya dan menipu mereka berdua.
Syeikh Ibnu Jibrin pernah ditanya tentang hukum surat menyurat antara seorang pemuda dan pemudi, sebagaimana diketahui bahwa didalam surat menyurat ini bersih dari mesum, percumbuan dan percintaan?
Beliau menjawab:
“Tidak diperbolehkan seorang pemuda mengirimkan surat kepada wanita yang bukan mahramnya dikarenakan hal itu mengandung fitnah. Memang terkadang orang yang mengirim surat tidak merasa bahwa hal itu adalah fitnah akan tetapi setan senantiasa menggoda si pemuda dan pemudi itu.”
“Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan seseorang yang mendengar tentang dajjal agar menjauhinya. Dan beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam juga memberitahu bahwa seorang lelaki benar-benar akan mendatangi dajjal dan mengira seorang mukmin akan tetapi ia tetap mengikuti dajjal sehingga ia terkena fitnah.”
“Didalam surat menyurat antara para pemudi dan pemuda terdapat fitnah dan bahaya besar yang harus dihindari meskipun si penanya mengatakan bahwa didalamnya tidak terdapat dari mesum, percumbuan dan percintaan.” (Fatawa al Marah)
Oleh karena itu sebaiknya anda lanjutkanlah proses taaruf itu —jika masih diperlukan— dengan pertemuan  yang disertai orang lain atau mahramnya.

Wallahu A’lam.
Ta'aruf sebagai sarana yang objektif dalam melakukan pengenalan dan pendekatan. Ta'aruf sangat berbeda dengan pacaran. Ta`aruf secara syar`i memang diperintahkan oleh Rasulullah SAW bagi pasangan yang ingin nikah. Perbedaan hakiki antara pacaran dengan ta'aruf adalah dari segi tujuan dan manfaat.

Jika tujuan pacaran lebih kepada kenikmatan sesaat, zina dan maksiat. Sedang ta'aruf jelas sekali tujuannya yaitu untuk mengetahui kriteria calon pasangan.

Dalam pacaran, mengenal dan mengetahui hal-hal tertentu calon pasangan dilakukan dengan cara yang sama sekali tidak memenuhi kriteria sebuah pengenalan. Ibarat seorang yang ingin membeli mobil second tapi tidak melakukan pemeriksaan, dia cuma memegang atau mengelus mobil itu tanpa pernah tahu kondisi mesinnya. Bahkan dia tidak menyalakan mesin atau membuka kap mesinnya. Bagaimana mungkin dia bisa tahu kelemahan dan kelebihan mobil itu.

Sedangkan taaruf adalah seperti seorang montir mobil ahli yang memeriksa mesin, sistem kemudi, sistem rem, sistem lampu dan elektrik, roda dan sebagainya. Bila ternyata cocok, maka barulah dia melakukan tawar menawar.

Ketika melakukan ta'aruf, seseorang baik pihak laki atau wanita berhak untuk bertanya yang mendetail, seperti tentang penyakit, kebiasaan buruk dan baik, sifat dan lainnya. Kedua belah pihak harus jujur dalam menyampaikannya. Karena bila tidak jujur, bisa berakibat fatal nantinya.

Namun secara teknis, untuk melakukan pengecekan, calon pembeli tidak pernah boleh untuk membawa pergi mobil itu sendiri. Silahkan periksa dengan baik dan kalau tertarik, mari bicara harga.

Dalam upaya ta'aruf dengan calon pasangan, pihak laki dan wanita dipersilahkan menanyakan apa saja yang kira-kira terkait dengan kepentingan masing-masing nanti selama mengarungi kehidupan. Tapi tentu saja semua itu harus dilakukan dengan adab dan etikanya. Tidak boleh dilakukan cuma berdua saja. Harus ada yang mendampingi dan yang utama adalah wali atau keluarganya. Jadi ta`aruf bukanlah bermesraan berdua, tapi lebih kepada pembicaraan yang bersifat realistis untuk mempersiapkan sebuah perjalanan panjang berdua.

Taaruf adalah media syar`i yang dapat digunakan untuk melakukan pengenalan terhadap calon pasangan. Sisi yang dijadikan pengenalan tidak hanya terkait dengan data global, melainkan juga termasuk hal-hal kecil yang menurut masing-masing pihak cukup penting.

Misalnya masalah kecantikan calon istri, dibolehkan untuk melihat langsung wajahnya dengan cara yang seksama, bukan cuma sekedar curi-curi pandang atau ngintip fotonya. Justru Islam telah memerintahkan seorang calon suami untuk mendatangi calon istrinya secara langsung face to face, bukan melalui media foto, lukisan atau video.

Karena pada hakikatnya wajah seorang wanita itu bukan aurat, jadi tidak ada salahnya untuk dilihat. Dan khusus dalam kasus ta`aruf, yang namanya melihat wajah itu bukan cuma melirik-melirik sekilas, tapi kalau perlu dipelototi dengan seksama. Periksalah apakah ada jerawat numpang tumbuh disana. Begitu juga dia boleh meminta diperlihatkan kedua tapak tangan calon istrinya. Juga bukan melihat sekilas, tapi melihat dengan seksama. Karena tapak tangan wanita pun bukan termasuk aurat.

Lalu bagaimana dengan keharusan ghadhdhul bashar ? Bab ghadhdhul bashar tempatnya bukan saat ta`aruf, karena pada saat ta`aruf, secara khusus Rasulullah SAW memang memerintahkan untuk melihat dengan seksama dan teliti.



Selain urusan melihat pisik, taaruf juga harus menghasilkan data yang berkaitan dengan sikap, perilaku, pengalaman, cara kehidupan dan lain-lainnya. Hanya semua itu harus dilakukan dengan cara yang benar dan dalam koridor syari`ah Islam. Minimal harus ditemani orang lain baik dari keluarga calon istri atau dari calon suami. Sehingga tidak dibenarkan untuk pergi jalan-jalan berdua, nonton, boncengan, kencan, ngedate dan seterusnya dengan menggunakan alasan ta`aruf. Janganlah ta`aruf menjadi pacaran. Sehingga tidak terjadi khalwat dan ikhtilath antara pasangan yang belum jadi suami istri ini.

Mengenai jarak antara lamaran dan akad,. tidak ada batasan tertentu. Tetapi sebaiknya akad dilakukan secepat mungkin setelah lamaran untuk menghindarkan fitnah. Bahkan, tidak mengapa menanyakan tentang kemungkinan pelaksanaan akad tersebut saat lamaran dilakukan.



lalu, mengenai cara menolak ajakan menikah seorang akhwat tentu saja hal itu harus dilakukan dengan ucapan yang baik yang tidak menyinggungnya, entah secara langsung atau lewat cara lain yang dipandang bisa dipahami secara baik olehnya.
Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.
Ta’aruf

sebagian dari kamu mungkin sudah mengenal atau pernah mendengar kata ta’aruf, di dalam islam sendiri ta’aruf diartikan sebagai mengenal, dalam artian kita tuh di suruh untuk saling mengenal kepada orang lain, ga cuma di lingkungan sekitar aja tapi juga kepada semua, terlebih lagi dengan saudara muslim. Dalam surat cintanya, Alloh menganjurkan kita untuk saling ta’aruf, buat kamu2 yang sudah nikah ayatnya populer banget n biasanya di tempatin di undangan walimah  . Yup, bener banget, Surat Al Hujuraat ayat 13, kurang lebih begini arti ayatnya ” Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. “

Mungkin sedikit pengertian mengenai ta’aruf tadi sudah membuka wawasan kamu2 semua, paling ga mengerti apa itu ta’aruf  maaf taunya baru segitu aja hi hi hi..!! ntar nyambung lagi klo udah baca referensi buku yang lainnya. But, kali ini saya teh mau sharing ke kamu2 semua mengenai ta’aruf yang lebih spesifik, tau donk….!! he he he…!!

Ga usah malu, segan, apalagi tabu, tuk ngebahas ini. ta’aruf dalam rangka mancari pasangan hidup yang tepat(ga pake kata cocok, coz klo cocok itu relatif n terkesan hanya diawalnya saja) yang tentunya juga mempunyai satu tujuan yang sama, kamu tau ga tujuannya apa…!! hari gennee ga tau(gubraaakk…!!) tujuannya adalah membangun keluarga yang sakinah, mawadah, n warahmah. nah untuk mencapai tujuan itu kamu juga harus mengawalinya juga dengan cara yang baik/ahsan. tuk menjawab keinginan kamu itu Islam sudah memberikan jalan keluarnya. yaaa ta’aruf itu…

Ta’arufnya seperti apa sich….!!! eiiit…..sabar  , sebelum kita ngebahas lebih jauh ada baiknya kmu mengenal dulu maksud dari ta’aruf tsb, yupz…kmu harus tetapin tujuannya “Menikah” klo kamu cuma main2 mending ga usah dech itu pertanda klo kamu belum siap alias belum dewasa. n then dalam ta’aruf ada deadline juga lhoo…!! cukup 3 bulan aja. Haaahh….!! kok di batasin sich “HARUS” kenapa musti dibatasin coz, di khawatirkan klo lebih dari itu bisa aja tujuan kamu tuk menikah menjadi sirna atau malah bisa terjerumus ke yang namanya pacaran, semakin lama kamu berinteraksi dengan si dia semakin rentan kebersihan hatimu. So, Say No Pacaran yaa..!!

Siap Ta’aruf, Siap Nikah

Ga cuma nikah aja yg butuh persiapan, ternyata ta’ruf pun juga butuh. Beberapa hal yang perlu kamu persiapkan diantaranya :

Mental

Usia ga ngejamin kesiapan orang tuk menikah. ketika kamu memutuskan ta’aruf dengan seseorang kamu harus siap dengan konsekuensi yaitu “Menikah”. Buang jauh2 perasaan belum bisa menjalani kehidupan pernikahan, coz semua itu hanya godaan syaitan. Mulailah dari sekarang mempersiapkan diri. Inga-Inga rasul pernah bersabda”Bukan termasuk golonganku orang yang tidak mau menikah”. Sebagian temen yg saya tanya, blm mau menikah karena masih banyak cita2nya yg belum kesampaian, mulai dari mau lanjutin kuliah, kejar karir, sampai nunggu kakaknya nikah duluan wahh repot deh klo begini, padahalkan kuliah pun masih bisa di lanjutkan walaupun kamu telah menikah yang penting kamu bisa memanaje dan mengkomunikasikannya dengan pasangan kamu. mungkin saja suami/istrimu malah bisa manjadi partner dalam meraih cita2.

Finansial

Wuuiih sabar  , ga usah mengkerutkan dahi gtu donk. Mau- ga mau kita memang harus mempersiapkan point ini sedini mungkin. Tips buat kamu2 yang susah banget nabung, coba ubah manajeman keuangan yang selama ini kamu jalankan, mulai saat ini sisihkan sebagian gaji kamu setelah menerimanya, ini penting banget tuk menghindari pola kamu2 yang konsumtif, klo perlu beli sebuah celengan n masukin dech segera ketika penghasilan kmu terima. atau bisa juga pake cara saya, buka rekening di bank yang paling sedikit /susah dicari ATM nya, kemudian setorkan uangnya sesegera mungkin.

Ilmu

Ini yang ga kalah penting, mulai saat ini kamu musti bekalin diri dengan yang namanya ilmu rumah tangga? ehm..ehm…!! Memang apa sich…!! banyak banget tuch mulai dari kewajiban suami-istri, hukum pernikahan sampai gimana cara mendidik anak. banyakkan  makanya hayuuh atuh mulai sekarang belajar n banyak baca buku ttg pernikahan, ingat bukan buku yang membahas indahnya pernikahan lhoo yaa..jangan salah…!! setalah kamu mengetahuinya jangan lupa tuk diamalkan. memang berat sich, tapi berusahalah! Chayo…!!

Keluarga Besar

Khusus buat akhwatnya, poin ini perlu di perhatikan. Karena masa ta’aruf yang singkat ada baiknya klo kmu mulai memperbincangkan hal ini dengan orang tua, coz banyak ditemui juga justru si akhwat baru memberitahukan ke orang tua rencana walimahnya di beberapa bulan kedepan. Nah lhoo shock ga tuch orang tua setelah tau  , bisa juga malah justru orang tuamu akan menolak itu semua. coba dech dikomunikasikan misalkan “Ma, karena ade(sebutan anak) ga pacaran, jadi nanti mama jangan kaget ya klo tiba2 ada yang datang melamar…” or “Ma, klo ade nikah, ade maunya konsep pernikahannya begini, begini n begini…” kurang lebih gtu dech

Perantara Ta’aruf

Siapa aja sich yang bisa menjadi perantara kita dalam berta’aruf…? Pertama adalah ortu kemudian temen, Murrabi/ahnya.

Kriteria

klo yang ini sich bisa segambreng  tuk dijabarin, but saya ga akan membahas panjang lebar mengenai ini. intinya sich seleksi kembali kriteria tersebut apakah masih bisa dikompromikan, kayak musti putih, dari suku tertentu or chubby itu mah dikompromikan aja dehh. OK, tooh yang paling pentingkan pemahaman ttg agamanya. tuk panduan buat kmu dalam menentukan kriteria tsb, kmu bisa mulai mengumpulkan kriteria tersebut dari temen2 terdekatmu, bisa itu sifatnya, kebiasaan maupun hobinya yang kmu anggap punya nilai lebih.

Pertanyaan yang sering ditanyakan ketika ta’aruf

1. Tujuan menikah, coba pikirkan kira2 apa jawaban kmu atas pertanyaan tsb.

2. Pemahaman ttg agama/Tsaqofah Islamiyah,

3. Pengenalan thp Allah, Rasulallah &Al Quran

4. Masa2 sulit & cara menyikapinya

5. Bagaimana sikapnya jika tidak suka thp sesuatu

6. Tugas suami/istri

7. Jika istri bekerja mana yang lebih penting

8. Cara mengelola keuangan(pertanyaan buat akhwat)

9. Semangat meraih maisyah(pertanyaan buat ikhwan) n

akhwat boleh juga menanyakan pendapatan dari ikhwannya/bln.

N masih seabrek ilmu yang bisa kmu pelajari dibuku ini. Penulisnya Leyla Imtichanah “Ta’aruf Kereen Pacaran Sorry Men!” Penerbitnya Lingkar pena publishing. silahkan cari di toko buku terdekat yaa.

Coz, klo kita tulis semua di sini ga ada yg beli donk nanti bukunya he he he he…!! bukannya begitu mba’ leyla

Untukmu Kader Dakwah


Di lapangan dalam dua decade terakhir ini mulai nampak kesadaran untuk memahami dakwah secara luas daripada sekedar pernyataan secara lisan di mibar-mimbar. Ia adalah pencerahan, pembebasan, pemberdayaan, penataan dan pelaksanaan. Indonesia telah menjadi lahan subur bagi pesan-pesan dakwah tersebut, bukan karena ia pesan impor melainkan karena sikap moderatnya dan wasathiyahnya sejalan dengan karakter dan watak bangsa ini.
1. Al-Fahmu
anda yakin bahwa fikrah (pandangan) kami adalah fikrah islamiyah yang solid dan tangguh, serta anda memahami Islam seperti apa yang kami pahami dalam kerangkan 20 landasan (al ushuul al’isyruun). Dengan melihat kedudukan ilmu, nyatalah bahwa yang dimaksud dengan ilmu dan kemuliaannya itulah ilmu nafi’ (ilmu yang bermanfaat). Karena itulah maka seluruh kata ilmu (dalam Al-Quran dan Hadits) maksudnya ilmu nafi’, menurut Ibnu Athaillah. Selebihnya ia menjadi beban tanggungjawab dan penyesalan, karena berhenti pada jidal (debat) dan muhabah (kebanggaan) dan alat menarik keuntungan dunia. Ilmu selalu membuat empunya semakin rendah hati, sensitive dan sungguh-sungguh.
2. Al-Ikhlash
yang dimaksud al-ikhlas adalah seluruh ucapan, perbuatan dan perjuangan seorang aktivis Muslim selalu ditujukan dan dimaksudkan hanya kepada Allah ta’ala saja, serta memohon ridhoNya semata, juga kebaikan ganjaranNya. Tidak ingin mengharap imbalan apapun, baik berupa harta, tahta, martabat dan kedudukan, tanpa melihat maju mundurnya perkembangan dakwah.
Dengan demikian ia telah menjadi seorang jundi (prajurit) baik secara intelektual maupun aqidah, bukan seorang jundi yang mencari imbalan dan manfaat, seperti yang difirmankan oleh Allah SWT:
“sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan Semesta Alam” (Q.S Al-An’am: 162).
Dengan demikian seorang aktivis muslim selalu memahami doktrin “Allah tujuan kami” dan “Allah Maha Besar dan bagiNya segala puja dan puji” (Hasan Al-Banna)
3. Al-‘Amal
yang diinginkan dari al-‘amal adalah buah dari ilmu dan ikhlas, seperti yang disebutkan dalam Quranul Karim: “dan katakanlah: “beramallah kalian, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat kalian itu dan kalian akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kalian apa yang telah kalian amalkan” (Q.S At-Taubah: 105)
adapun urut-urutan amal:
1.mengoreksi diri dan memperbaiki diri
2.membentuk dan membina keluarga muslim
3.memberi petunjuk dan membimbing masyarakat dengan dakwah
4.membebaskan tanah air dari penguasa asing
5.memperbaiki pemerintahan
6.mengembalikan kepemimpinan dunia kepada umat Islam
7.menjadi soko guru dunia dengan menyebarkan dakwah islamiyah ke seluruh penjuru dunia.
4. Al-Jihad
yang dimaksud al-jihad adalah suatu kewajiban yang masanya membentang (tak akan berhenti) sampai hari kiamat dan apa yang dikandung dari sabda Rasulullah SAW: “barang siapa yang mati, sedangkan ia tidak berjuang atau minimal punya niat untuk berjuang, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah”
adapun urutan paling bawah dari jihad adalah ingkar hati dan urutan tertinggi adalah mengangkat senjata di jalan Allah. Sedangkan ditengah-tengah itu adalah jihad lisan, pena, tangan, berkata benar di hadapan penguasa tirani.
Dakwah tidak akan hidup dan berkembang kecuali dengan jihad. Karena kedudukan dakwah yang begitu tinggi dan bentangannya yang begitu luas maka jihad merupakan jalan satu-satunya untuk bisa menghantarkannya. Juga betapa besar pengorbanan dalam mengokohkan posisi dakwah itu dan apa yang akan diperoleh para pengemban dakwah di sisi Allah SWT. firmanNya:
“dan berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad” (Q.S Al-Hajj: 78)
dengan demikian anda sebagai aktivis dakwah tahu akan hakikat doktrin “jihad adalah jalan kami” (Hasan Al-Banna)
5. At-Tadhdhiyah
yang dimaksud adalah pengorbanan baik jiwa, raga, harta, waktu serta segala sesuatu dalam rangka mencapai tujuan. Dan tidak ada kata jihad di dunia ini tanpa adanya rasa pengorbanan. Anda jangan merasa bahwa pengorbanan anda akan hilang begitu saja demi meniti jalan fikrah ini. Tapi itu tak lain adalah sebuah ganjaran yang melimpah dan pahala yang besar, barang siapa yang tak mau berkorban dengan kami maka berdosa. Karena Allah ta’ala telah menegaskan hal ini banyak sekali dalam Al-Quran. Dengan memahami ini maka anda akan memahami doktrin “mati di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi” (Hasan Al-Banna)
6. At-Tho’ah
yang dimaksud adalah melaksanakan sekaligus menjalankan perintah tanpa reserve, baik dalam kelapangan maupun kesempitan, dalam suka maupun duka (Hasan Al-Banna).
Mustahilkah jaman kini dari istijabah yang menyuburberkahkan para kader dan aktivis dakwah dari kucuran doa para masyaikh dan pemimpin atas pribadi-pribadi ataupun kelompok? Ataukah para pembangkang dan kaum arogan telah siap menerima limpahan yang akan menenggelamkan mereka karena kerontang ketaatan di hati mereka?
7. Ats-Tsabat
yang dimaksud adalah tetaplah anda sebagai aktivis dakwah yang selalu aktif berjuang di jalan yang ditujunya, walaupun masanya panjang bahkan sampai bertahun-tahun, sampai nanti bertemu Allah Rabbul ‘Alamin dalam kondisi seperti itu, dengan meraih salah satu dari dua kebaikan, berhasil mencapai tujuan atau meraih syahadah pada akhirnya.
Waktu bagi kami adalah bagian dari solusi, sebab jalan dakwah itu panjang dan jauh jangkauannya serta banyak rintangannya. Tapi semua itu adalah cara untuk mencapai tujuan dan ada nilai tambah berupa pahala dan balasan yang besar serta menarik. (Hasan Al-Banna)
8. At-Tajarrud
maknanya adalah agar anda membersihkan fikrah anda dari segala pengaruh dasar-dasar hidup dan sosok pribadi orang-orang selain fikrahmu, sebab ia paling tinggi dan paling komplit dari yang lainnya. Firman Allah SWT:
“celupan Allah, dan siapakah yang paling baik celupannya dari Allah” (Q.S Al-Baqarah: 138)
aku tidak peduli ketika dibunuh sebagai muslim
jasadku jatuh dimana
Bila Tuhan menghendaki dengan izinNya
Ia akan berkahi kepingan tubuh yang koyak (Abdullah bin Rawahah RA)
9. Al-Ukhuwah
artinya adalah agar seorang aktivis dakwah menggabungkan antara hati dan ruh dengan tali aqidah, sementara aqidah itu sendiri merupakan tali yang paling kuat dan paling mahal. Ukhuwah adalah saudara seiman, sementara perpecahan itu adalah saudara kekafiran. Kekuatan yang pertama adalah kuatnya persatuan dan kesatuan, bila tidak ada persatuan bila tak ada cinta kasih, sedangkan derajat cinta yang paling rendah adalah hati yang selamat dari buruk sangka kepada saudara muslim lainnya dan yang paling tinggi adalah itsar, yaitu mendahulukan kepentingan saudaranya daripada kepentingan pribadinya, “dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Q.S Al-Hasyr: 9). (Hasan Al-Banna).
10. Ats-Tsiqoh
kepercayaan dan ketenangan (kemantapan hati) seorang jundi kepada pimpinannya dalam hal kemampuan dan keikhlasannya, sebab kepercayaan yang dalam hal ini menciptakan rasa cinta, hormat dan taat. An-nisa: 65
pimpinan adalah bagian dari dakwah, tak ada dakwah bila tanpa kepemimpinan. Dari rasa saling percaya antara pemimpin dan para jundinya inilah kemudian lahir kekuatan struktur dakwah, pengaturan strateginya dalam mencapai tujuan serta kemampuan menanggulangi segala rintangan dan kesulitan yang menghadang jalan dakwah. Muhammah: 21.
“ulurkan tanganmu, aku akan membaiatmu” pinta Umar RA “justru aku akan membaiatmu” jawab Abu Bakar RA. “engkau lebih utama (afdhal) daripadaku” tukas Umar. “engkau lebih kuat daripadaku” jawab Abu Bakar.
“kekuatanku untukmu bergabung dengan keutamaanmu” Umar menutup dialog dan sebuah generasi baru dimulai.
Tinjauan : Ta’aruf sebuah Istilah Asal Keren
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS Al Hujurat :13)


Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Benarkah ta’aruf sebuah istilah asal keren?? Dan Siapakah yang telah membatasi makna ta’aruf?? Apakah kesan anda saat membaca judul dan artikel SPPI tentang ta’aruf itu?? (Kesan saya pribadi..dari judul dan artikel SPPI tersebut adalah..“sinis” J, wallahu’alam.)
Kali ini kita mencoba mengkritisi tulisan SPPI yang berhubungan dengan ta’aruf. Udah pada baca?? Kalau belum, bisa langsung klik disini. Semoga bermanfaat.
 SPPI berkata(link)“Pada beberapa tahun terakhir ini, ada gejala pergeseran makna taaruf. Ada kecenderungan, taaruf tidak lagi diartikan menurut makna asli yang terkandung dalam Al-Quran, surat al-Hujurât [49], ayat 13: “Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku li ta‘ârafû (supaya kamu saling kenal). …Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”  Jadi, makna asli istilah taaruf itu adalah proses saling kenal dengan siapa pun selama hayat dikandung badan. Namun sekarang, ada banyak ikhwan yang bilang, “taaruf adalah perkenalan antara seorang ikhwan dan seorang akhwat yang akan menikah.” Bahkan, ada tak sedikit akhwat yang ngomong, “taaruf adalah proses pendekatan selama maksimal tiga bulan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang akan menikah.” Aneh, ya?Gimana nggak aneh? Bayangin aja. Mereka batasi makna taaruf hanya untuk pendekatan ketika akan menikah. Itu pun selama maksimal tiga bulan saja. Mereka dengung-dengungkan istilah taaruf dengan makna yang agak “MENYIMPANG”dari makna yang terkandung dalam Al-Quran, surah al-Hujurât [49], ayat 13. Padahal, mereka kan rajin membaca Al-Quran. Tekun pula menyimak terjemahnya dan mengkaji isinya. Lantas, apakah mereka itu asal beda? Asal pake istilah dari bahasa Arab biar kedengaran Islami? Ataukah asal keren? Sorry, men! Gak usahlah kita “BERPRASANGKA BURUK” kepada mereka.”

J Sudah baca ikhwah fillah. Saya ingin memulai dari peryataan dibawah dimana SPPI menyatakan “ga usahlah berprasangka buruk”, lantas..apakah yang dimaksud dengan “mereka itu asal beda?”…” Asal pake istilah dari bahasa Arab biar kedengaran Islami”..” Ataukah asal keren?”..” Mereka dengung-dengungkan istilah taaruf dengan makna yang agak “MENYIMPANG”dari makna yang terkandung dalam Al-Quran”…” Padahal, mereka kan rajin membaca Al-Quran. Tekun pula menyimak terjemahnya dan mengkaji isinya”. Subhanallah, wa kafa billahi syahida (Cukuplah Allah SWT sebagai saksi).
Istilah ta’aruf atau perkenalan atau berkenalan memang ‘dipopulerkan’ oleh gerakan2 dakwah yang berkembang di Indonesia. Dan faktanya hingga saat ini tidak ada pergeseran makna atas makna Quraninya(QS Al Hujurat :13). Artinya, ta’aruf bagi ikhwan dan akhwat adalah meliputi segala hal yang berkaitan dengan aktifitas berkenalan. Apakah itu berkenalan dalam ta’lim, halaqah, dijalan, dan lain-lain sampai kepada pengertian “perkenalan” dengan calon pasangan. Nah kira2 motivasinya apa sih menggunakan istilah ta’aruf itu(kalau mau jujur, sebenarnya bukan saja istilah ta’aruf saja yang dikenalkan oleh gerakan2 dakwah yang ada, tetapi mulai dari istilah ikhwan akhwat, ana antum, akhi ukhti, afwan, syukron, jazakallah, ghirah, ghodul bashor, dll)?? “Asal keren kah atau untuk apa nih??”..InsyaAllah ngga ke situ arahnya, tetapi lebih kepada mendekatkan(mengenalkan dan menumbuhkan kecintaan) kita-kita kepada bahasa arab, bahasa rasulullah SAW, dan bahasa Al Quran. Idealnya memang, kita sebagai muslim/ah bisa berbahasa arab, tapi kalaupun belum bisa, minimal beberapa istilah kita tahu dan kita paham.
Bagi mereka yang  tidak buru2 taqlid tulisan SPPI diatas pasti bertanya “Yakin, ta’aruf di Al Quran itu juga bermakna ‘perkenalan’ dengan calon pasangan udah ada dari dulu??”. Tentu saja yakin.
 Berkata Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkenaan dengan tafsir ayat ini (QS Al Hujurat : 13)“..Ayat mulia dan hadits2 syarif (*) ini telah dijadikan dalil oleh beberapa ulama yang berpendapat bahwa kafaah (sederajat) didalam masalah nikah itu tidak dijadikan syarat(sederajat-dalam hal kecantikan/kegantengan, keturunan, harta/kekayaan-ed), dan tidak ada yang dipersyaratkan kecuali agama. Hal itu didasarkan pada firman Allah Ta’ala “..Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu”. Sedangkan ulama lainnya mengambil dalil-dalil lain yang terdapat dalam buku-buku fiqih. Dan kami telah menyebutkannya sekilas mengenai hal itu dalam kitab Al Ahkam. Segala puji dan sanjungan hanya bagi Allah semata.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS Al Hujurat:13 Juz 26).

 Inilah fakta bahwa ayat 13 dari surat Al Hujurat itu telah lama dijadikan dalil dalam berta’aruf dengan calon pasangan, dan ini juga yang dipahami oleh Ustadz Abu Syuqqah sebagaimana perkataannya “Perkawinan itu memiliki mukaddimah seperti perkenalan(ta’aruf dalam bahasa arab), khitbah, akad nikah, dan resepsi.”(hal.77).

Jadi apakah anda masih berkesimpulan bahwa “ta’aruf sebuah istilah asal keren??” jika iya, ya ga papa J. Tapi mbok ya jangan bilang kalau istilah ta’aruf yang dimaksudkan juga perkenalan kepada calon pasangan itu baru datang beberapa tahun belakangan apalagi ditambah dengan perkataan yang tidak ada manfaatnya seperti diatas. Karena ta’aruf itu maknanya sangat luas, seperti yang saya katakan diatas, maka ketika kita berbicara perkenalan dengan calon pasangan, atau perkenalan dengan teman, perkenalan dengan keluarga, dan lain-lain, semua makna perkenalan itu dikembalikan kepada makna umumnya yakni kata “ta’aruf”. Dan seperti inilah yang didakwahkan para ulama2 salaf dan khalaf yang berpegang kepada kitabullah dan sunnah. Tidak ada keraguan bagi orang2 yang berfikir, insyaAllah. Sehingga tidak akan pernah dapat digantikan istilah ta’aruf ini dengan istilah ‘tanazhur’ ala SPPI, karena selain tidak memiliki dalil yang tepat, hal itu bertentangan dengan fakta bahwa dalil ‘tanazhur’ yang dimasukkan oleh Ustadz Abu Syuqqah ada didalam Bab. MEMINANG. Sedangkan “meminang” atau “khitbah” adalah proses lanjut setelah melalui perkenalan atau ta’aruf.

Mengenai penjelasan.. apakah yang dimaksud dengan tanadzhur menurut Abu Syuqqah??  Apakah sama perkataan “memberi perhatian” dan “memperhatikan” ?? dll..akan disampaikan pada kesempatan lain, insyaAllah.
Wallahu’alam wastaghfirullah li walakum
Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh
(*) Diantara Hadits2 Syarif (mulia) tersebut :
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda :”Sesungguhnya Alla tidak melihat rupa kalian dan harta benda kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal perbuatan kalian” (HR Muslim, diriwaytkan juga oleh Ibnu Majah)
Dari Abdullah bin Amirah, suami Darrah binti Lahab, dari Darrah binti Lahab radhiallahu’anha, ia berkata :”Ada seorang laki2 yang berdiri menemui nabi SAW yang ketika itu beliau tengah berada diatas mimbar, lalu ia berkata :’ya Rasulullah, siapakah orang yang paling baik itu?’ Rasulullah SAW menjawab ‘Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik bacaan (Al Quran)nya, paling bertaqwa kepada Allah SWT, paling gigih menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, dan paling giat menyambung tali silaturahim’. (HR Ahmad)

0 komentar: